#htmlcaption1 Go UP! pure javascript. no jquery. no flash. #htmlcaption2 Stay Connected

Kisah “PAK SOFYAN” Berjuang Melawan Sakit Lembah Biru Desa Malino oleh RAHMAT IHSANMAPPANGARA



                     Kisah “PAK SOFYAN” Berjuang Melawan Sakit
Lembah Biru Desa Malino
14-Juni-2013



Diselah-selah berjalannya Materi Training I**B* PD-MAKASSAR malam itu, saya memilih untuk nonkrong di warkop bambu yang mungkin ukuran warkop itu sekitar 3x2 kaki bukit lembah biru desa malino. Berharap mendapatkan sesuatu yang lain dari desa ini selain merasakan dinginnya suhu yang harus membuatku memakai jaket tiga lapis malam itu. Langkah demi langkah mencoba menerangi jalan setapak desa bersama HP komuniketer ku menghampiri warkop yang dituju.

Setibanya di warkop itu, seperti biasa terlebih dahulu memilih berbincang-bincang bersama pemilik warkop sebelum memesan kopi hitam setengah sendok gula andalanku.., ditengah perbincangan, tepat di belakang kami seorang ayah separuh baya dan seorang anak gadis kecilnya memungut-mungut kayu kering dan membakarnya. Sambil memotong perbincangan kami, saya sempatkan bertanya kepada pemilik warkop..”dua orang itu siapa bu..?”ibu itu menjawab “itu suami dan anak saya”terus ibu itu nanya balik “kenapa..?”Saya nanya balik “maaf bu’ suami ibu sakit apa, kenapa pipi-nya membengkak..?”ibu itu menjawab dengan santainya dan sedikit senyuman “oh..suami saya sudah 2 tahun ini terkena penyakit kanker ganas, tahun lalu sempat dibawah berobat di salah satu rumah sakit kota makassar tapi keluarga terkendala di dana, makanya keluarga memilih berobat kampung saja tapi sampai sekarang tidak ada perubahan”.

Mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan hasil pembicaraan kami yang begitu singkat dan saya bisa menangkap, mengapa ibu itu menjawab pertanyaan saya dengan santainya dan sedikit senyuman“mungkin ditengah keterbatasan dan keputusasaan keluarga untuk biaya berobat ibu itu merespon pertanyaanku dengan santainya, karena sempat ibu itu menyinggung bahwa sampai hari ini tidak ada satupun pemerintah daerah memberi bantuan untuk meringankan biaya perobatan suaminya”

Nama suami ibu itu Pak Sofyan” bekerja sebagai penjaga pekarangan lokasi penginapan Lembah Biru Desa Malino, tepat posisi rumah dan warkop bambu ukuran 3x2 itu berada di sebelah kanan sudut jalan 100 meter sebelum tiba ke lokasi penginapan Lembah Biru Desa Malino.




DESA-ku yang MERINDUKAN KEADILAN PEMBANGUNAN oleh RAHMAT IHSAN MAPPANGARA


DESA-ku yang MERINDUKAN KEADILAN PEMBANGUNAN

Mungkin banyak diantara kita masyarakat mamuju yang tidak mengetahui bahwa sese adalah daerah pedesaan yang memiliki keindahan fanorama alam untuk dikunjungi. Letaknya hanya sekitar 15 km dari kota Kabupaten mamuju menuju arah kantor gubernur propinsi Sulawesi barat. Kebanyakan penduduk di sini bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang di pasar kabupaten mamuju. Sese adalah sebuah wilayah yang menurut saya luar biasa bahkan mungkin tidak semua daerah lain memiliki potensi seperti ini. Tanahnya subur, udara sejuk, Air melimpah, dikelilingi oleh pegunungan yang berbentuk lembah.
      Tetapi untuk sampai pada jantung kota desa sese kita perlu kesiapan mental yang kuat, disebabkan jalan poros menuju desa ini sangat ekstrim, jalan yang begitu menanjak dan penurunan jalan yang begitu terjal, jalan bebatuan dan berlobang sepanjang 5 km, diperparah lagi apabila hujan turun masyarakat memilih untuk tidak keluar desanya karena jalan yang begitu becek dan sering kali memakan 
  
   jalan poros desa sese yang menjadi penghubung satu-satunya menuju desa alla-alla, desa salunangka dan simbuang dua.  



        Desa sese memiliki satu akses jalan yang menghubungkan beberapa desa yaitu desa alla-alla, desa salunangka dan desa simbuang dua yang dimana mayoritas masyarakatnya adalah petani yang tiap harinya membawa hasil pertaniannya ke pasar kota kabupaten mamuju Sulawesi barat. Ada yang menarik dari desa ini ketika saya menyempatkan waktu berdiskusi dengan beberapa masyarakat desa mengenai pembangunan jalan untuk desa ini, beberapa masyarakat spontan tertawa dan berkata bahwa jalan di desa ini sudah hampir 10 tahun tidak terjamah oleh pemerintah setempat, jangankan terjamah untuk berkunjung ke desa ini saja bisa di katakan hanya beberapa tahun sekali tetapi yang menarik pada saat momentum pemilihan kepala daearah dan pemilihan para calon anggota legislatif, desa ini menjadi sasaran empuk bagi para calon untuk mempromosikan diri dan beberapa janji program kerja yang di tawarkan kepada masyarakat, khususnya pembangunan jalan ketika nantinya terpilih. Tiba-tiba ditengah perbincangan kami salah seorang masyarakat berkata, ya’ wajar buat kami  masyarakat pedesaan yang masih memiliki keterbelakangan pendidikan masih sangat gampang untuk di bodoh-bodohi, apa lagi menyinggung mengenai program pembangunan jalan masuk ke desa karena buat kami perbaikan jalan menjadi hal utama kebutuhan masyarakat desa, disebabkan jalan menjadi satu-satunya akses penghubung antara desa ke kota.  

Seorang Ibu melintasi jalan ini sambil  membawa pakan untuk ternaknya
Tidak hanya sampai disitu, malam harinya saya menyempatkan diri bertemu dengan pak Jasman selaku kepala desa sese utara mengenai keluhan masyarakat desanya. Pak Jasman mengatakan bahwa mengenai perbaikan jalan untuk desanya sudah menjadi topik utama tiap kali pembahasan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pedesaan, tetapi sampai saat ini tidak ada realisasi dari pemerintah setempat mengenai hasil dari musyawarah partisipatif tersebut. Keluhan yang lain dari pak desa ketika kenaikan harga Bahan Bakar Minyak, dimana sebelum harga BBM naik, biaya ojek untuk anak sekolah menuju kota sebesar Rp.10.000,- jadi untuk pulang pergi saja anak sekolah yang rata-rata orang tuanya hanyalah petani, harus menyisihkan Rp.20.000,- untuk biaya transportasi. Sekarang pada saat harga BBM sudah naik, biaya ojek juga ikut naik menjadi Rp.15.000,- itu hanya untuk biaya menuju ke sekolah. Jadi menurut pak desa wajar-wajar saja jika masyarakat desaku berlomba-lomba untuk menjual tanah pertaniannya karena hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. 

      Salah satu rumah masyarakat desa sese yang ramah lingkungan
 
Sampai pada saat ini dengan melihat permasalahan masyarakat desa yang tak kunjung usai atau bisa dikatakan bahwa pemerintah masih setengah hati dalam pemerataan pembangunan. Saya mulai memikirkan bagaimana mematikan kota lewat desa dengan tidak membawa hasil sumber daya pertanian ke kota dengan tujuan merubah kebijakan pemerintah dalam pemerataan pembangunan, khususnya pembangunan infrastruktur pedesaan. Karena pada hakekatnya, dari desa lah kita masih dapat bertahan hidup sampai hari ini.
Mungkin kita jarang berfikir bahkan tidak pernah berfikir, betapa besar jasa para petani kita dalam menyediakan kebutuhan pokok hidup kita. Bahkan di Jepang negeri Sakura yang telah maju perkembangan teknologinyapun, anak-anak sejak dini dididik untuk menghargai petani. Anak-anak sekolah taman kanak-kanak setiap akan makan diajarkan supaya memulai dengan mengucapkan ”terimakasihku pada petani yang telah menyediakan makanan ini”. Ini mendidik untuk menghargai jerih payahnya petani dalam menghasilkan sesuap nasi yang perlu perjuangan dengan tetesan keringat dalam waktu yang panjang. Saat ini baru penghargaan terhadap guru telah terus ditanamkan pada setiap anak didik baik dengan nyanyian ataupun ungkapan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun penghargaan kepada para petani kita dalam menghasilkan bahan makanan kita nyaris tak ada sama sekali, bahkan penghargaan finansial terhadap petani atau nilai tukar petani rendah dan itupun masih diombangambingkan dengan harga. Petani dalam perjuangan hidupnya tanpa pamrih apapun, dengan tetesan keringatnya hanya semata untuk memenuhi penyediaan pangan sesamanya. Nampaknya perlu menumbuhkan kesadaran bahwa dari petanilah kita makan, dengan jerih payah merekalah kita dapat menikmati hidup ini. Kita perlu menghargai perjuangan atau jerih payahnya. Kalau guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, maka petani selama ini sebagai pahlawan yang terabaikan. Yang seharusnya petani sebagai pahlawan kehidupan. Tidak berarti ingin mengagungkan, namun hanya sekedar menempatkan petani pada porsi yang sebenarnya, (.
Dokumentasi ini diambil 1 hari sebelum perayaan kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2013


Copyright © 2013 HIMSENA-UH - Designed by Creative Team -